Sabtu, 17 Mei 2008

WALI SONGO DALAM ISLAMISASI DI INDONESIA

A. Wali Songo dalam Islamisasi di indonesia.

Ada 9 ulama yang sangat berjasa dalam penyabaran islam di jawa. Wali Songo mengembangkan agama islam antara abad ke 14 sampai 16, menjelang dan setelah runtuhnya kerajaan majapahit. Dalam babad tanah jawi dalam berdakwah para wali dianggap sebagai kepala sekelompok mubalig untuk daerah penyiaran tertentu. Selain dikenal sebagai ulama, mereka juga berpengaruh besar dalam kehidupan politik pemerintahan. Karena itu, mereka diberi gelar “Sunan” (Susuruhan, junjungan).

a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Dikenal juga dengan nama Maulana Magribi (syekh magribi). Ia juga berasal dari magribi (afrika utara). Ia berasal dari keluarga muslim yang taat, dan belajar agama islam sejak kecil. Ia berdakwah secara intensif dan bijaksana. Upaya menghilangkan sistem kasta dalam masyarakat pada masa itu menjadi objek berdakwah. Cita – cita dan perjuangannya dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Ampel.

b. Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Memulai dakwahnya dari sebuah pesantren yang didirikan di Ampel Denta ( dekat surabaya ) Jawa Timur. Sunan Giri, Raden Patah, Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah murid – muridnya. Sunan Ampel dikenal sebagai wali yang tidak setuju terhadap adat istiadat masyarakat jawa misalnya, kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan. Namun para wali lain berpendapat bahwa hal itu tidak dapat dihilangkan dengan segera. Mereka mengusulkan agar adat istiadat itu diberi warna islam. Akhirnya Sunan Ampel menyetujui bahwa hal itu akan berkembang menjadi bid’ah.

c. Raden Paku ( Raden Ainul Yaqin ) atau Sunan Giri.

Raden Paku adalah putra Maulana Ishak. Ia di tugaskan Sunan Ampel untuk menyiarkan agama islam di Blambangan. Sunan Giri pernah belajar di pesantren ampel denta. Setelah dewasa, pada suatu perjalanan haji bersama Sunan Bonang, ia singgah di pasai untuk memperdalam ilmu agama. Sekembalinya ke jawa, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah giri. Ia juga banyak mengirim juru dakwah ke Bawean.

d. Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

Menyebarkan agama islam dengan cara menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat jawa yang menggemari wayang dan musik gamelan. Untuk itu, ia menciptakan gending – gending yang memiliki nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimah syahadat sehingga musik gamelan yang mengiringinya kian dikenal dengan istilah sekaten. Sunan Bonang pernah belajar islam di Pasai, Aceh. Sekembalinya dari pasai, ia memusatkan kegiatan dakwahnya di Tuban yang mendirikan pondok pesantren.

e. Sunan Drajat (Raden Qosim Syarifudin )

Dikenal sebagai seorang wali yang dermawan. Ia banyak memberikan pertolongan kepada yatim piatu, fakir miskin, orang sakit dan orang sengsara. Perhatiannya yang besar terhadap masalah sosial sangat tepat pada masa itu. Ia hidup pada saat kerajaan majapahit runtuh ( 1428 M ) dan rakyat mengalami suasana kritis serta prihatin.

f. Syarif hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Adalah wali yang sangat berperan dalam penyebaran islam di jawa barat, khususnya Cirebon. Ia pendiri dinasti kesultanan Banten. Kesultanan Banten dimulai dari putranya, Sultan Maulana Hasanudin. Sunan Gunung Jati memprakarsai penyerangan ke sunda kelapa pada tahun 1527 m dibawah pimpinan fatahillah, panglima perang Kesultanan Demak yang juga menantu Sunan Gunung Jati.

g. Raden Jafar Sadiq atau Sunan Qudus.

Sunan Qudus membangun masjid di daerah loran pada tahun 1549 m namanya masjid Al-Aqsa atau Al-Manar, wilayah sekitarnya disebut qudus. Sunan Qudus digelari wali Al-Ilmi ( orang berilmu luas ) oleh para wali songo karena memiliki keahlian khusus dalam bidang agama.

h. Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga

Dikenal sebagai budayawan dan seniman ( seni suara, ukir dan busana ). Ia menciptakan aneka cerita wayang yang bernafaskan islam yang dibuat dari kulit kambing ( wayang kulit ). Pada masa itu wayang populer dilukis pada semacam kertas lebar ( wayang beber ). Dalam seni suara, ia adalah pencipta lagu dandang gula. Sunan kalijaga berasal dari suku jawa asli. Ia melakukan dakwahnya dengan cara berkelana. Karena wawasannya luas dan pemikirannya tajam, Sunan Kalijaga tidak hanya disukai rakyat, tetapi juga oleh para cendikiawan dan penguasa.

i. Raden Said ( Raden Prawoto ) atau Sunan Muria.

Adalah salah seorang wali yang sangat berjasa bagi penyebaran islam di daerah pedesaan. Sunan Muria pun menggunakan kesenian sebagai sarana berdakwah. Dua tembang yang diciptakannya dan sangat terkenal adalah sinom dan kinanti. Tembang sinom umumnya melukiskan suasana ramah tamah dan berisi nasihat. Adapun tembang kinanti yang bernada gembira digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, nasihat dan filsafat

Tidak ada komentar: